Kasih…
Ada banyak kisah romantik yang pernah kita miliki
Dan mungkin saat inipun kita menanti kisah di episode selanjutnya.
Tapi haruskah semuanya bertabur senyum dalam gemerlap kebahagiaaan.
Ataukah semua harus terbenam dalam nestapa yang mengharubirukan air mata
Ah…mungkin jika suatu masa akan datang, Berjalan menyisir pesisir jalan di sepanjang pantai kehidupan.
Bergenggam tangan menikmati indahnya alam
Bercerita tentang bahagianya kebersamaan…
…dan bahagia diberi kesempatan untuk berjalan dengan sendal kerinduan
Ingatkah…
…desir angin yang menjadi musik indah langkah kita
…debur ombak yang semakin menghangatkan suasana
Ketenangan dalam rengkuh selimut do’a
Lalu kau tuliskan dua nama di pasir putih…
…dalam lingkaran seni seperti jantung hati
…tapi aku tak mengerti…
Lalu kau ambil pelepah kerang yang kasar,
…kau tuliskan kembali dua nama di sebuah batang pohon
…lagi – lagi kau lingkari dengan jantung hati
Lau ku bertanya…,
kenapa kau harus menulis dua kali ?
Saat itu kau jawab…,
Tulisan pertama adalah ungkapan asa
…asal tahu…, karena setelah itu ombak laut akan menghapusnya
Dan tulisan kedua simbol kesetiaan yang harus selalu dijaga
…ia akan tahan lama, dan siapapun bisa membacanya
…agar yang lain tahu…,bahwa kita akan selalu tetap bersama
Ada binar bahagia di sudut mata indahmu,
…saat kau ungkapkan asa terdalam yang kau punya
…sebuah senyum dan anggukan…
…merupakan jawaban sempurna yang kau damba
Tapi sayang…,
…kisah yang kita miliki tidak selalu harus berakhir bahagia
Tatkala aku pamit…,
Ketika sang ajal tiba…
…menjemputku untuk pergi selama – lamanya…
…jasadku diurug tanah merah dengan membawa segenggam cinta
…yang takkan pernah lepas dan takkan mungkin terhapus…
…karena dalam genggaman itu ada satu nama yang selalu ia jaga
…ia rawat penuh kasih,
…terukir dengan tinta emas di monumen jiwa
Lalu dari alam yang berbeda aku hanya bisa melambaikan tangan…
Tanda sebuah perpisahan…
Kau bisa melihatnya…
Kau bisa menatapnya…
…saat papan nisan tertancap kuat di atas pusara pemakamanku.
DIKUTIP DARI TULISAN SAHABATKU
Mercusuar itu tampak gagah ditengah laut yg indah.
Aku adalah teh celup yang siap kau seduh.
Di pinggir danau ku termenung
sebuah asa yang datang,
Namanya Ikhsan, dia adalah seorang Ikhwan.Tapi, dia tidak mau di sebut sebagai ikhwan karena dia merasa ilmunya masih dangkal.


RSS - Posts